FAKTAKALIMANTAN.CO.ID- PARINGIN- Di tengah jeritan biaya pendidikan yang kian mencekik, Ustad Supriadi justru mengambil sikap berlawanan arus. Pim

FAKTAKALIMANTAN.CO.ID- PARINGIN- Di tengah jeritan biaya pendidikan yang kian mencekik, Ustad Supriadi justru mengambil sikap berlawanan arus. Pimpinan Pondok Pesantren Fathur Rahim Sungsum Kec. Tebing Tinggi Kab. Balangan itu dengan tegas menyatakan satu hal yang jarang berani dilakukan lembaga pendidikan: seluruh santri mondok gratis tanpa SPP sejak hari pertama pesantren berdiri.
Bagi Ustad Supriadi, kebijakan tersebut bukan sekadar strategi bertahan, melainkan prinsip hidup yang tidak bisa ditawar.
“Sejak pondok ini dibuka, keputusan kami jelas dan tidak berubah: semua santri mondok tanpa dipungut SPP. Tidak ada pengecualian,” tegasnya.
Pernyataan itu seolah menjadi tamparan keras di saat banyak lembaga pendidikan menjadikan biaya sebagai tembok penghalang akses belajar. Di Pesantren Fathur Rahim Sungsum, Ustad Supriadi justru membuka pintu selebar-lebarnya bagi siapa pun, terutama anak-anak dari keluarga tak mampu.
Kebijakan berani tersebut menuai dukungan luas dari masyarakat dan wali santri. Para orang tua mengaku sangat terbantu karena terbebas dari beban biaya pendidikan yang selama ini menjadi momok.
Namun di balik idealisme itu, Ustad Supriadi tidak menutup mata terhadap kenyataan pahit. Ia mengakui, kebijakan tanpa SPP membuat pesantren kerap berada di titik rawan, terutama ketika dukungan finansial dari para donatur mengalami penurunan.
“Ada masa-masa bantuan menurun. Di situ kami benar-benar harus berhitung untuk bertahan,” ujarnya lugas.
Pesantren ini tetap berdiri berkat uluran tangan para dermawan atau hamba Allah, bahkan salah satu bangunan pesantren disebut berdiri dari sumbangan bersejarah seorang donatur. Pengelolaan pondok dilakukan langsung oleh ketua yayasan yang juga merangkap sebagai pengasuh.
Menariknya, Ustad Supriadi menolak menjadikan bantuan sebagai tuntutan.
“Kami tidak menuntut. Bantuan bisa ada, bisa juga tidak. Semua kami kembalikan kepada Allah,” katanya, tegas namun pasrah.
Meski hidup dalam keterbatasan, Ustad Supriadi menegaskan kualitas pendidikan tidak boleh dikorbankan. Pesantren tetap fokus pada penguatan ilmu agama, dengan konsentrasi utama pada Bahasa Arab, Ilmu Al-Qur’an, dan Fiqih.
Pembinaan santri dijalankan secara disiplin melalui jadwal tahsin dan hafalan Al-Qur’an yang terstruktur setiap hari. Menurutnya, kemiskinan bukan alasan untuk menghasilkan pendidikan yang setengah-setengah.
Keberadaan Pondok Pesantren Fathur Rahim Sungsum kini menjadi harapan bagi anak-anak yang sebelumnya nyaris terpinggirkan dari akses pendidikan agama.
COMMENTS