Sedikitnya 22 jasad telah ditemukan dalam rangkaian pencarian KM Virgo Transport 8 di Kalimantan Tengah hingga 30 September 2026. Empat temuan terbaru muncul pada hari ke-18 operasi, masing-masing satu jasad di Pantai Lunci, Kabupaten Sukamara, dan tiga jasad di Sungai Teruntum, Kabupaten Seruyan.
Di saat yang sama, operasi SAR masih memburu 57 orang dari total 243 orang yang tercatat dalam manifes kapal. Secara keseluruhan, 186 orang telah ditemukan, terdiri dari 108 korban selamat dan 78 korban meninggal.
Empat jasad terakhir ditemukan oleh Search and Rescue Unit (SRU) darat pada Rabu, 30 September. Satu jasad ditemukan di Pantai Lunci pada pukul 02.07 WITA dan dibawa ke RSUD Kabupaten Sukamara untuk penanganan serta proses identifikasi.
Tiga jasad lainnya ditemukan sekitar pukul 13.30 WITA di Sungai Teruntum, Kabupaten Seruyan. Proses evakuasinya tidak dapat dilakukan melalui jalur darat dan membutuhkan penyisiran melalui jalur laut dari Pelabuhan Kumai.
Kepala Kantor SAR Banjarmasin I Putu Sudayana mengatakan empat temuan tersebut merupakan hasil perluasan pencarian hingga wilayah pesisir dan daratan Kalteng.
“Pencarian dilakukan secara terkoordinasi dengan mempertimbangkan kondisi lapangan serta keselamatan seluruh personel yang terlibat,” kata Putu. Kamis (1/10/2026).
Angka 22 merupakan akumulasi. Sampai 29 September, Basarnas telah mencatat 18 korban ditemukan dari wilayah Kalteng. Empat temuan pada 30 September kemudian menambah jumlah tersebut menjadi sedikitnya 22 jasad.
Jejak pencarian di Kalteng mulai teridentifikasi sejak 20 September. Dua jasad ditemukan di kawasan pesisir Desa Sungai Perlu, Kecamatan Seruyan Hilir. Pada perkembangan berikutnya, temuan meluas ke wilayah Kotawaringin Barat dan Sukamara.
Pada 22 September, seorang nelayan menemukan jasad laki-laki tanpa identitas di Perairan Kumai, Kotawaringin Barat. Jasad tersebut kemudian dievakuasi untuk pemeriksaan dan identifikasi karena diduga berkaitan dengan kecelakaan KM Virgo Transport 8.
Penemuan kembali terjadi di kawasan pesisir Sukamara dan Seruyan. Pada 25 September, lima korban ditemukan dalam satu rangkaian pencarian di wilayah Kalteng. Rangkaian temuan tersebut membuat pesisir barat Kalteng menjadi salah satu wilayah penting dalam operasi pencarian.
Bagi tim SAR, laporan masyarakat menjadi penting karena pencarian tidak lagi hanya berpusat di sekitar lokasi tenggelamnya kapal. Arus membawa kemungkinan korban ditemukan jauh dari lokasi bangkai kapal, termasuk masuk ke pesisir, muara dan jalur sungai.
Pada hari ke-18, Basarnas mengerahkan unsur laut, udara, darat dan penyelam dengan total 1.042 personel gabungan untuk memperluas pencarian terhadap 57 orang yang masih hilang.
“Di Kalimantan Tengah menggelar operasi SAR. Jadi semua personel diturunkan, digerakkan, dan mulai dari kemarin sudah menyisir wilayah Kalimantan Tengah, khususnya di daerah pesisir,” ujar Putu.
Ia mengatakan, nformasi masyarakat ikut membuka titik-titik pencarian baru di pesisir. “Petugas menerima laporan dari warga terkait adanya penemuan jenazah laki-laki di pinggiran Pantai Sungai Tabuk. Setelah menerima informasi tersebut, anggota langsung berkoordinasi dengan unsur terkait dan melakukan proses evakuasi,” ujar Dony.
Perluasan sektor juga ditandai dengan ditemukannya sebuah life craft yang telah masuk ke wilayah Natai Kuini, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, sekitar tujuh mil laut dari wilayah Sukamara. Temuan itu menunjukkan bahwa operasi pencarian harus memperhitungkan pergerakan benda dan kemungkinan korban mengikuti dinamika arus laut.
Saat ini, pencarian di darat dan laut terus bergerak, operasi bawah air belum memberikan tambahan korban pada 30 September. Tim penyelam Basarnas, TNI AL dan unsur potensi SAR kembali menyisir bagian dalam bangkai KM Virgo, tetapi hasilnya nihil.
Ia menjelaskan, salah satu kendala utama berada pada struktur bangkai kapal yang menyulitkan penyelam masuk lebih jauh. “Akses masuk penyelam ke badan kapal sangat terbatas karena tertutup,” terangnya.
Kondisi tersebut membuat pencarian tidak dapat hanya mengandalkan operasi penyelaman. Tim harus memperluas penyisiran ke permukaan laut, pesisir, sungai dan daratan yang secara geografis dapat dijangkau arus dari wilayah kecelakaan.
Di sisi lain, penemuan jasad belum otomatis berarti proses bagi keluarga selesai. Identitas setiap korban tetap harus dipastikan melalui proses identifikasi resmi.
Hingga 30 September malam, 74 kantong jenazah telah diterima di RS Bhayangkara Banjarmasin. Dari jumlah tersebut, 51 jenazah telah teridentifikasi dan 23 lainnya masih dalam proses identifikasi. Empat temuan baru pada 30 September masih menjalani proses evakuasi dan penanganan.
Dengan angka tersebut, operasi saat ini memiliki dua pekerjaan yang berjalan bersamaan. Mencari 57 korban yang belum ditemukan dan memastikan identitas korban meninggal yang telah berhasil dievakuasi.
Sementara, perkembangan perkara juga memasuki tahap hukum. Penyidik Ditpolair Korpolairud Baharkam Polri telah menetapkan nakhoda KM Virgo Transport 8, Arief Yunianto, sebagai tersangka dan melakukan penahanan. Penyidik masih mendalami kemungkinan adanya pihak lain yang dapat dimintai pertanggungjawaban.
Kasubdit Gakkum Ditpolair Korpolairud Baharkam Polri, Kombes Kukuh Prabowo mengatakan penyidikan terhadap kecelakaan tersebut telah ditangani pihaknya.
“Saat ini sudah kami tangani, dan saat ini kita sementara sudah menetapkan tersangka nahkodanya dan sudah dilakukan penahanan,” ujar Kukuh.
Namun proses hukum tersebut berjalan di jalur yang berbeda dengan operasi SAR. Fokus tim pencarian tetap pada korban yang belum ditemukan, sementara penyidik bekerja mengungkap rangkaian peristiwa dan tanggung jawab hukum atas kecelakaan kapal.
Hingga pagi 1 Oktober 2026, tidak ditemukan laporan baru yang mengubah rekap tersebut: empat jasad pada 30 September merupakan temuan terakhir yang tersedia dalam laporan operasi hari ke-18. Dengan demikian, sedikitnya 22 jasad telah ditemukan dalam rangkaian pencarian di wilayah Kalteng, sementara 57 orang masih dalam pencarian.
Operasi belum selesai. Pencarian berikutnya akan tetap bertumpu pada penyisiran pesisir dan sungai di Kalteng, operasi laut, pencarian bawah air serta informasi masyarakat, sembari menunggu proses identifikasi terhadap korban yang telah ditemukan.(din/*)









