Jumlah titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) di Kalimantan Tengah turun tajam dari 134 menjadi 37 titik berdasarkan pemantauan hingga 28 September 2026 pukul 21.00 WIB. Meski turun, pemerintah tetap memperkuat penanganan karena hotspot merupakan indikasi anomali suhu yang masih harus diverifikasi di lapangan.
Penurunan tersebut tercatat dalam pemantauan SiPongi Kementerian Kehutanan. Secara nasional, hotspot high confidence turun dari 559 menjadi 365 titik dalam sehari. Kementerian menegaskan bahwa hotspot tidak otomatis berarti jumlah kejadian kebakaran karena satu kebakaran dapat menghasilkan lebih dari satu titik panas.
Pada saat yang sama, penegakan hukum terhadap dugaan pembakaran lahan terus berjalan. Kepolisian daerah bersama jajaran pada dua pekan terakhir mengumumkan penanganan enam laporan dengan delapan orang yang telah ditetapkan sebagai tersangka. Perkara tersebut tersebar di Kapuas, Barito Timur, Barito Selatan dan Kotawaringin Timur.
“Penurunan hotspot harus tetap dibaca dengan hati-hati karena setiap indikasi masih membutuhkan pemeriksaan lapangan. Fokus penanganan tetap pada verifikasi, pemadaman, pendinginan dan pencegahan kebakaran meluas,” kata Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni. Selasa (29/9/2026).
Kementerian Kehutanan memang mengingatkan bahwa proses groundcheck tetap penting, terutama di wilayah gambut. Api dapat bertahan di bawah permukaan meski kobaran di atas lahan terlihat sudah padam.
Dari sisi penegakan hukum, polisi menyatakan kasus yang ditemukan tidak hanya berasal dari laporan masyarakat, tetapi juga hasil patroli dan penindakan langsung di lapangan. Dalam salah satu pengungkapan terbaru, Kapolda Kalteng menyebut pelaku ditemukan ketika melakukan pembakaran.
“Pelaku tertangkap tangan melakukan pembakaran,” ujar Kapolda Kalteng, Irjen Pol Iwan Kurniawan dalam pemaparan penanganan kasus karhutla. Baru-baru ini.
Penanganan kemudian tidak berhenti pada pemadaman. Sebelumnya, Polda Kalteng juga menegaskan bahwa penegakan hukum berjalan bersama pencegahan, edukasi, patroli, pemadaman dan pendinginan lokasi terdampak.
“Penurunan angka hotspot bukan alasan untuk menurunkan kewaspadaan. Setiap dugaan pembakaran tetap harus ditangani berdasarkan fakta dan alat bukti yang ditemukan penyidik,” katanya.
Ia menambahkan, prioritas berikutnya adalah memastikan seluruh indikasi di lapangan diverifikasi sehingga penurunan hotspot benar-benar diikuti penurunan risiko kebakaran dan asap. Operasi darat dan udara masih diperkuat.
“Patroli, groundcheck, pemadaman langsung, penyekatan, pembasahan dan pendinginan tetap dilakukan bersama pemerintah daerah, BPBD, TNI, Manggala Agni, masyarakat dan pihak terkait,” pungkasnya.








