Persoalan air gambut yang berwarna pekat dan cenderung asam menginspirasi enam siswa SMA Negeri 3 Palangka Raya, mengembangkan inovasi penyaring air berbahan lokal. Penelitian tersebut mengantarkan mereka meraih medali emas dalam Lomba Peneliti Belia 2026 yang diselenggarakan Indonesian Young Scientist Association (IYSA) di Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat.
Inovasi bernama PURE-PEAT itu mengintegrasikan tanaman purun, pasir, kerikil, dan arang dari limbah kayu sebagai media filtrasi untuk membantu menjernihkan air gambut sekaligus meningkatkan derajat keasamannya atau pH.
Tim peneliti terdiri atas Geovan Marvellino, Katherine Allusia Handra, Gladys Nathazia Ananda Debint, Chintya Putri Jasmine, Realynn Telabang Narang, dan Marsel U.
Penelitian tersebut berangkat dari persoalan lingkungan yang dekat dengan kehidupan masyarakat Kalimantan Tengah. Di wilayah yang memiliki bentang lahan gambut luas, kualitas air menjadi salah satu tantangan yang memerlukan pendekatan pengolahan sesuai karakteristik sumber air setempat.
Ketua tim peneliti, Geovan Marvellino, menjelaskan bahwa kondisi air gambut menjadi alasan mereka mengembangkan teknologi penyaringan dengan memanfaatkan sumber daya yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar.
“Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi kami dalam penyediaan air bersih bagi masyarakat. Kami mencoba mencari solusi dengan mengoptimalkan sumber daya yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar,” ujar Geovan pada Sabtu (24/10/2026).
Hasil pengujian menunjukkan potensi perbaikan kualitas air
Dalam pengembangan PURE-PEAT, para siswa memadukan sejumlah bahan lokal menjadi sistem filtrasi berlapis. Arang dari limbah kayu digunakan bersama purun, pasir, dan kerikil untuk membantu memperbaiki karakteristik air gambut.
“Susunan media filtrasi yang dinilai paling optimal mampu meningkatkan pH air gambut dari 4,0 menjadi 6,5. Tingkat kejernihan air meningkat hingga 60 persen,” terangnya.
Hasil tersebut menjadi indikasi awal bahwa bahan-bahan lokal berpotensi dimanfaatkan dalam teknologi pengolahan air. Namun, perubahan pH dan kejernihan belum cukup untuk memastikan air aman dikonsumsi.
Kelayakan air minum tetap harus dibuktikan melalui pengujian menyeluruh, termasuk parameter mikrobiologi, kandungan kimia, dan persyaratan kualitas air yang berlaku. Karena itu, PURE-PEAT lebih tepat dipandang sebagai prototipe penelitian yang menjanjikan, bukan teknologi yang telah terbukti menghasilkan air siap minum.
Dinas Pendidikan menilai riset relevan dengan tantangan daerah
Inovasi tersebut mendapat perhatian Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah. Kepala Dinas Pendidikan Kalteng, Muhammad Reza Prabowo, mengapresiasi upaya para siswa dalam mengembangkan penelitian yang berangkat dari persoalan lingkungan.
“Hari ini sangat luar biasa sekali. Saya menerima adik-adik yang membawa solusi dari permasalahan yang saat ini dialami bukan cuma Kalimantan Tengah, tetapi juga provinsi lain, mengingat tahun ini El Nino terberat,” ungkap Reza.
Bagi daerah yang menghadapi tantangan pengelolaan air gambut, penelitian seperti PURE-PEAT dapat membuka ruang bagi pengembangan teknologi yang memanfaatkan sumber daya setempat. Meski demikian, penerapannya di masyarakat perlu mempertimbangkan efektivitas, biaya, ketersediaan bahan, perawatan alat, dan standar keamanan air.
Prestasi perlu diikuti pengembangan dan pembuktian
Guru pendamping tim peneliti, Robintang Sitorus, menekankan pentingnya mengubah persoalan di sekitar siswa menjadi bahan penelitian ilmiah.
“Hal yang ingin kami tekankan adalah bagaimana siswa mampu melihat persoalan yang ada di sekitar mereka sebagai peluang untuk melakukan penelitian. Bahan-bahan yang selama ini dianggap sederhana dapat dikembangkan menjadi inovasi apabila dipelajari dan diuji secara ilmiah,” ujar Robintang.
Pernyataan tersebut memperlihatkan nilai pendidikan dari penelitian ini; siswa tidak hanya mempelajari teori di kelas, tetapi juga berlatih mengidentifikasi masalah, menyusun metode, menguji hipotesis, dan mengevaluasi hasil.
Tantangan berikutnya adalah memastikan penelitian berlanjut setelah kompetisi. Prototipe perlu diuji pada variasi karakteristik air gambut, kondisi penggunaan yang berbeda, serta parameter kualitas air yang lebih lengkap. Hasil pengujian juga perlu didokumentasikan agar dapat ditelaah dan direplikasi oleh peneliti lain.
Apabila pengembangan tersebut dilakukan secara konsisten, PURE-PEAT berpotensi menjadi salah satu contoh riset pelajar berbasis kearifan lokal yang menghubungkan pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebutuhan masyarakat.
Medali emas yang diraih enam siswa SMAN 3 Palangka Raya menjadi pencapaian yang patut diapresiasi. Namun, nilai jangka panjang penelitian ini tidak hanya ditentukan oleh penghargaan yang diperoleh, melainkan juga oleh ketelitian pengujian, keterbukaan terhadap evaluasi, dan kemampuan membuktikan manfaatnya bagi masyarakat.
Dari persoalan air gambut, para siswa menunjukkan bahwa potensi inovasi dapat tumbuh dari lingkungan terdekat. Langkah selanjutnya adalah memastikan gagasan tersebut berkembang melalui proses ilmiah yang terukur sehingga prestasi menjadi awal pengembangan solusi, bukan akhir dari penelitian.(din/*)








