Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP), Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, mulai memperlihatkan dampak langsung terhadap habitat orangutan. Area pemberian pakan (feeding area) di Camp Leakey dilaporkan mengalami kerusakan akibat kebakaran dan ditutup sementara.
Di tengah kondisi tersebut, sekitar 40 relawan masih harus mengangkut air menggunakan galon secara estafet untuk membantu mendinginkan titik-titik yang sulit dijangkau peralatan pemadam.
Perwakilan relawan sekaligus pelaku wisata di TNTP, Moncos, mengatakan keterbatasan akses air menjadi salah satu kendala utama di lapangan. Sumber air yang jauh membuat selang pemadam tidak mampu menjangkau sejumlah titik yang membutuhkan pendinginan.
“Sumber air yang berada cukup jauh dari titik api menjadi salah satu kendala di lapangan. Akibatnya, selang air tidak dapat menjangkau lokasi yang harus didinginkan,” ujar Moncos pada Sabtu 31 Oktober 2026.
Sekitar 40 relawan kemudian bekerja bergantian meneruskan galon berisi air menuju lokasi sasaran. Cara manual tersebut digunakan untuk membantu proses pendinginan, terutama menangani bara yang masih tersisa di kawasan terdampak.
“Upaya itu dilakukan untuk membantu proses pendinginan di kawasan yang terdampak karhutla. Pendinginan diperlukan untuk menangani bara yang masih tersisa dan mengurangi risiko api kembali menyala,” kata Moncos.
Dampak kebakaran juga mulai terlihat di Camp Leakey, salah satu lokasi penting untuk penelitian, pengamatan, dan konservasi orangutan di TNTP. Area pemberian pakan di lokasi tersebut mengalami kerusakan sehingga aktivitas feeding dihentikan sementara oleh Balai Taman Nasional Tanjung Puting.
“Untuk saat ini kondisi di feeding mengalami kerusakan. Kebakaran hutan membuat kondisinya miris,” kata Moncos.
Ia juga menyampaikan bahwa penutupan sementara diberlakukan oleh pihak Balai, khususnya pada area pemberian pakan Camp Leakey. Hingga Sabtu, 31 Oktober 2026, belum ada kepastian mengenai waktu pembukaan kembali lokasi tersebut.
Kondisi ini menjadi perhatian karena feeding platform merupakan salah satu lokasi pemberian pakan tambahan dan pemantauan orangutan. Camp Leakey merupakan satu dari tiga lokasi utama feeding platform di TNTP, selain Tanjung Harapan dan Pondok Tanggui. Kerusakan di lokasi tersebut tidak hanya berdampak pada kondisi vegetasi, tetapi juga mengganggu aktivitas pengamatan dan konservasi satwa.
Hujan Turun, Bara di Gambut Belum Padam
Penanganan karhutla di kawasan TNTP masih berlangsung meskipun hujan telah mengguyur sejumlah lokasi selama dua hari sebelumnya. Pada Kamis (29/10/2026), Manggala Agni Daerah Operasi Kalimantan III/Pangkalan Bun bersama relawan, TNI, dan Polri masih melakukan penyisiran serta pendinginan di kawasan Sungai Sekonyer dan Tanjung Harapan.
Kepala Daops Manggala Agni Kalimantan III/Pangkalan Bun, Binsar Oktavianus Togatorop, menjelaskan bahwa pekerjaan petugas telah berfokus pada mopping up, yakni pendinginan sisa kebakaran yang masih mengeluarkan asap.
“Di wilayah kami, pemadaman di Sungai Sekonyer, Tanjung Harapan, saat ini masih mopping up atau pendinginan sisa asap yang masih mengepul di beberapa titik,” jelas Binsar.
Menurut Binsar, pendinginan tetap diperlukan untuk memastikan bara api yang tertinggal tidak kembali menyala dan meluas. Operasi darat berlangsung bersamaan dengan dukungan pemadaman udara. Namun, pada Kamis tersebut, kegiatan water bombing yang dilaporkan Binsar berlangsung di kawasan Telaga Pulang, Kabupaten Seruyan, bukan di lokasi TNTP.
Pada Kamis malam hingga Jumat, tim gabungan juga melanjutkan pemadaman di kawasan Resor Pesalat, Tanjung Harapan, Kecamatan Kumai. Kapolres Kotawaringin Barat, AKBP Joko Handono mengatakan personel tetap disiagakan untuk mengendalikan kebakaran dan mencegah api menjalar ke vegetasi yang lebih rapat.
“Pergerakan taktis di malam hari sengaja kami genjot untuk memanfaatkan penurunan suhu udara guna menekan laju pergerakan api permukaan, sekaligus menyelamatkan habitat orangutan yang menjadi perhatian dunia,” ujar Joko.
Kondisi gambut menjadi tantangan tersendiri karena bara dapat bertahan di bawah permukaan tanah meskipun hujan telah membasahi bagian atasnya. Kabut asap, keterbatasan jarak pandang, serta kondisi tanah yang labil dan rawan amblas juga membuat petugas harus bergerak lebih hati-hati.
BMKG Pantau Peluang Hujan hingga 1 November
Perkembangan cuaca pada Sabtu (31/10/2026) memberikan harapan bagi penanganan karhutla di kawasan tersebut. BMKG Kotawaringin Barat mendeteksi pertumbuhan awan hujan di sekitar Kecamatan Kumai dan Taman Nasional Tanjung Puting.
Forecaster on Duty BMKG Kotawaringin Barat, Atira Indiani Pangastuti, menyampaikan bahwa hujan berpotensi turun secara tidak merata pada 31 Oktober hingga 1 November 2026.
“Untuk update cuaca hari ini, diprakirakan hari ini dan besok berpotensi hujan tidak merata di sebagian wilayah Kotawaringin Barat dan sekitarnya,” ujar Atira.
Ia menjelaskan bahwa awan Cumulonimbus terpantau di sebagian wilayah Kabupaten Sukamara dan Kecamatan Kumai, sementara pertumbuhan awan hujan juga terdeteksi di sekitar TNTP.
Meski demikian, BMKG mengingatkan bahwa hujan tidak turun secara bersamaan di seluruh wilayah. Efektivitasnya dalam membantu pemadaman juga bergantung pada intensitas, durasi, dan lokasi turunnya hujan.
Di tengah upaya pemerintah dan petugas gabungan, kepastian mengenai kondisi seluruh area terdampak, kesiapan infrastruktur pemadaman, dan pemulihan habitat orangutan masih menjadi pekerjaan yang perlu dituntaskan.(fit/*)







