Kasus ISPA di Kabupaten Kapuas terus menjadi perhatian di tengah dampak karhutla dan cuaca kering. Hingga 24 September 2026, akumulasi kasus ISPA sejak 16 Agustus mencapai 2.465 kasus, dengan Kecamatan Selat mencatat angka tertinggi sebanyak 624 kasus.
Dalam satu hari pada 24 September, tercatat 92 kasus ISPA baru dari 17 kecamatan. Pada periode 20–24 September, terdapat 362 kasus atau rata-rata sekitar 72 kasus per hari, meningkat dari rata-rata sekitar 61 kasus per hari pada minggu sebelumnya.
Kepala Pelaksana BPBD Kapuas Pangeran S. Pandingan mengatakan laporan kasus berasal dari seluruh puskesmas dan rumah sakit.
“Tercatat sebanyak 92 kasus ISPA baru dalam satu hari,” kata Pangeran. Senin (28/9/2026).
Secara kumulatif, perkembangan kasus juga menunjukkan tekanan kesehatan yang tidak kecil. “Jumlah kasus ISPA telah mencapai 2.465 kasus,” ujarnya.
Kecamatan Selat menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi, disusul Mantangai sebanyak 354 kasus dan Kapuas Hilir 221 kasus.
“Kecamatan Selat menjadi kecamatan dengan jumlah kasus ISPA tertinggi,” kata Pangeran.
Namun angka rendah di sejumlah wilayah tidak otomatis berarti beban penyakit juga rendah. BPBD mencatat akses layanan kesehatan yang lebih jauh di kawasan terpencil dapat memengaruhi tingkat pelaporan.
“Rendahnya jumlah laporan, belum tentu menunjukkan kondisi sebenarnya,” katanya.
Di tengah meningkatnya perhatian terhadap dampak kualitas udara, Dinas Kesehatan Kabupaten Kapuas terus memantau perkembangan keluhan pernapasan masyarakat sekaligus memastikan kesiapan layanan kesehatan. Pemantauan dilakukan untuk melihat apakah perubahan kondisi udara mulai diikuti perubahan pada pola kasus ISPA di lapangan.
“Kami terus memantau perkembangan keluhan pernapasan dan kesiapan layanan kesehatan di seluruh wilayah,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kapuas, dr. Agus Waluyo.
Langkah tersebut menjadi penting karena dampak kualitas udara tidak selalu berhenti ketika kondisi asap mulai berkurang. Masyarakat tetap diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara memburuk, menggunakan masker, memperbanyak konsumsi air putih, serta segera memeriksakan diri apabila muncul keluhan seperti batuk, demam atau sesak napas.
Di tengah kondisi tersebut, hujan mulai turun di sejumlah wilayah Kabupaten Kapuas pada Minggu, 27 September 2026. Hujan disertai angin dan guntur terjadi secara tidak merata, termasuk di sekitar Kota Kuala Kapuas. Laporan BPBD Kapuas menyebut hujan dengan intensitas sedang turun di sebagian Kota Kuala Kapuas selama sekitar 30 menit, sementara sejumlah wilayah lain mendapat hujan dengan intensitas berbeda.
Hujan tersebut dapat membantu menambah kelembapan dan ketersediaan air di wilayah terdampak kekeringan serta berpotensi membantu kondisi kebakaran. Namun, turunnya hujan belum dengan sendirinya menjadi penanda bahwa persoalan asap dan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat telah berakhir.(KP/*)









