Dinas Kesehatan Kabupaten Kotawaringin Timur, mengingatkan masyarakat agar tidak langsung mengonsumsi air yang terasa asin atau payau sebelum kualitasnya dipastikan memenuhi standar air minum. Peringatan ini disampaikan setelah fenomena intrusi air laut memengaruhi sumber air baku Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumdam) Tirta Mentaya.
Gangguan kualitas air menjadi persoalan layanan dasar karena air digunakan masyarakat untuk minum, memasak, dan kebutuhan rumah tangga. Jika kualitasnya menurun, warga perlu memastikan sumber air alternatif yang digunakan aman untuk konsumsi.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kotim, Nugroho Kuncoro Yudho menyebut air payau berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan.
“Air Perumdam yang mulai asin atau payau di beberapa wilayah berpotensi meningkatkan risiko diare, terutama jika kualitas mikrobiologisnya juga menurun,” kata Nugroho pada Jumat (9 Oktober 2026).
Perumdam Tirta Mentaya sebelumnya mengumumkan penurunan kualitas air produksi akibat intrusi air laut yang mulai memengaruhi Sungai Mentaya sebagai sumber air baku. Dinkes pun mengimbau masyarakat berhati-hati saat menggunakan air dari jaringan Perumdam maupun sungai yang terdampak.
Meski ada laporan peningkatan kasus diare, Dinkes belum memastikan bahwa kondisi tersebut disebabkan langsung oleh peningkatan kadar garam dalam air. Data mingguan dari puskesmas menunjukkan kasus diare meningkat di kawasan perkotaan, sementara kenaikan dalam tiga bulan terakhir juga ditemukan di sejumlah wilayah bagian tengah dan utara Kotim.
“Besarnya peningkatan kasus diare tidak dapat ditentukan hanya dari rasa asin dan perlu didukung hasil pemeriksaan kualitas air serta data surveilans diare,” tutur Nugroho.
Karena itu, pemeriksaan kualitas air dan pemantauan penyakit diperlukan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara perubahan mutu air dan peningkatan kasus diare.
Nugroho menegaskan bahwa merebus air tidak menghilangkan kandungan garam yang membuat air terasa asin.
“Air yang terasa asin menunjukkan adanya perubahan kualitas air dan merebus air tidak menghilangkan kandungan garam tersebut. Sebaiknya tidak langsung dikonsumsi sebelum dipastikan memenuhi standar kualitas air minum,” ujarnya.
Ia meminta masyarakat perlu memastikan kualitas air yang digunakan untuk minum dan memasak sebelum mengonsumsinya, terutama ketika terjadi perubahan rasa atau kualitas air. Pihaknya juga mengingatkan risiko gangguan kesehatan lain, termasuk gangguan kulit.
“Konsumsi air dengan kadar garam sangat tinggi secara terus-menerus juga dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan,” ujarnya.
Selama kondisi air bersih belum sepenuhnya normal, masyarakat diminta menjaga kebersihan diri dan lingkungan, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, serta memastikan makanan dan peralatan makan tetap bersih.
Persoalan air payau di Kotim membutuhkan penanganan dari sisi penyediaan air dan kesehatan masyarakat. Kepastian kualitas air, hasil pemeriksaan, dan perkembangan penanganan Perumdam menjadi informasi penting agar warga dapat menentukan sumber air yang aman.(din/*)







