Sebanyak 1.316 kejadian kebakaran hutan dan lahan tercatat di Kabupaten Kotawaringin Timur hingga 6 Oktober 2026 dengan total luas lahan terbakar mencapai 2.122 hektare. Data tersebut menunjukkan ancaman karhutla masih tinggi meski memasuki awal Oktober. Status tanggap darurat karhutla di Kotim telah berlaku sejak 30 Juli 2026.
Koordinator Lapangan Satgas Penanggulangan Karhutla Kotim, Rihel mengatakan kondisi di lapangan belum berubah signifikan.
“Kondisi karhutla saat ini masih relatif sama,” ujar Rihel pada Kamis (8/10/2026).
Menurut Rihel, sejumlah wilayah masih mengalami kebakaran, termasuk Seranau, Pulau Hanaut, Mentaya Hilir Utara dan Teluk Sampit. “Sebagian lokasi kebakaran berada jauh dari akses jalan,” bebernya.
Kondisi medan membuat petugas harus berjalan kaki menuju titik api. Di Seranau, jarak tempuh dapat mencapai 4-7 kilometer.
“Kami harus berjalan kaki cukup jauh, bahkan 4-7 kilometer,” ungkapnya.
Kondisi tersebut membuat proses pemadaman membutuhkan waktu dan tenaga lebih besar. Sumber air juga terbatas sehingga petugas menggunakan embung portabel dan membawa peralatan secara manual.
Kabut asap turut menghambat dukungan pemadaman melalui udara. Helikopter water bombing yang disiagakan di Bandara Haji Asan Sampit membutuhkan jarak pandang sekitar 4.500-5.000 meter, sedangkan jarak pandang di lapangan dilaporkan rata-rata di bawah 1.000 meter.
“Kalau visibility di bawah itu, mereka tidak mau terbang karena risikonya besar,” papar Rihel.
Rihel menyebut jumlah titik kebakaran harian masih berada di kisaran 18-20 titik dan dalam kondisi tertentu dapat mencapai 30 titik.
“Kami perkirakan ancaman karhutla yang cukup tinggi ini masih akan berlangsung hingga musim hujan datang,” sebutnya.
Berdasarkan prakiraan BMKG, musim hujan masuk secara bertahap. Wilayah utara Kotim diperkirakan mulai memasuki musim hujan sekitar 11 Oktober ke atas, wilayah tengah pada dasarian ketiga Oktober, sedangkan wilayah selatan baru pada dasarian pertama November.(fit/*)








