Beranda›Eksekutif
Eksekutif

Karhutla Belum Usai, Sumur Bor Diperbanyak

Personel Manggala Agni membuat sumur bor sebagai sumber air untuk pemadaman kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah memperluas penanganan kebakaran hutan dan lahan dengan membangun ratusan sumur bor di berbagai kabupaten dan kota. Langkah itu tidak hanya diarahkan untuk mendukung pemadaman karhutla, tetapi juga menyediakan sumber air bersih bagi masyarakat yang terdampak kemarau panjang.

Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran menyampaikan kebijakan tersebut saat melaksanakan kunjungan kerja daerah ke Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat.

Agustiar menjelaskan, terdapat dua fungsi sumur bor yang dibangun pemerintah. Sebagian digunakan khusus untuk kepentingan pemadaman, sedangkan sebagian lainnya dapat dimanfaatkan untuk pemadaman sekaligus kebutuhan air masyarakat.

“Sumur bor yang kami bangun ini ada dua jenisnya,” terang Gubernur pada Kamis (8/10/2026).

Menurut Agustiar, pemerintah provinsi juga menerima permintaan tambahan pembangunan sumur bor dari sejumlah wilayah. Sekitar 15 lokasi masih mengusulkan pembangunan, terutama kawasan pesisir dan terbanyak berada di Kecamatan Kumai, Kotawaringin Barat.

“Pasti kami hadir ya kan. Kalau ada permintaan kami pastikan untuk membantu,” ujarnya.

Respons tersebut berjalan di tengah skala karhutla yang masih besar. Data Pos Komando Penanganan Darurat Bencana Karhutla Kalteng per 7 Oktober mencatat 5.848 kejadian dengan luas lahan terbakar lebih dari 17 ribu hektare.

Sebanyak 13.699 personel gabungan telah dikerahkan untuk pencegahan dan penanganan. Dalam penegakan hukum, tercatat 47 upaya hukum terkait karhutla.

Penanganan karhutla juga dilakukan melalui pembasahan lahan di daerah yang masih menyimpan bara. Dansatbrimob Polda Kalteng, Kombes Pol Dieno Hendro Widodo menyebut pembasahan dilakukan untuk mencegah api kembali muncul.

“Kami terus melakukan pembasahan di sejumlah titik panas untuk memastikan bara api benar-benar padam,” ungkapnya.

Menurut Dieno, penanganan tidak berhenti pada api yang terlihat. Kondisi lahan setelah pemadaman harus dipantau agar bara di dalam maupun permukaan lahan tidak kembali menyala.

“Kami berharap Karhutla segera berakhir sehingga langit Kalteng kembali biru dan segar,” harapnya.

Dari sisi informasi publik, Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah Kalimantan Tengah, Sesa Mareki mendorong radio di Pangkalan Bun ikut aktif menyampaikan informasi penanganan karhutla.

“Harapan saya lembaga penyiaran radio turut proaktif dalam mengawal serta memberitakan penanganan karhutla,” pinta Sesa.

Menurut Sesa, penanganan karhutla membutuhkan keterlibatan berbagai unsur masyarakat. Informasi yang cepat dan akurat dinilai penting agar publik mengetahui perkembangan penanganan di lapangan.

Dengan demikian, respons terhadap karhutla Kalteng kini bergerak pada beberapa lapis sekaligus; pemadaman, penyediaan air, perlindungan warga, serta penguatan informasi publik.(din/*)

Berita Terkait