Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur kembali memperpanjang status tanggap darurat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga 15 Oktober 2026. Keputusan itu diambil karena penanganan kebakaran masih berlangsung di sejumlah wilayah, sementara kondisi kemarau belum sepenuhnya berakhir.
Perpanjangan berlaku mulai 1 hingga 15 Oktober 2026. Pemerintah daerah mempertimbangkan kondisi lapangan serta prakiraan cuaca yang diperkirakan mulai membaik menuju pertengahan Oktober.
Data BPBD Kotawaringin Timur hingga 25 September mencatat 1.132 kejadian karhutla telah ditangani dengan luas sekitar 1.999 hektare. Pada periode yang sama, akumulasi hotspot di wilayah Kotim tercatat 36.519 titik.
Bupati Kotim Halikinnor mengatakan evaluasi penanganan terus dilakukan untuk menentukan langkah berikutnya selama status darurat masih berlangsung.
“Evaluasi ini untuk melihat sejauh mana upaya penanganan yang telah dilakukan, sekaligus menentukan strategi berikutnya,” ungkap Halikinnor, Selasa (29/9/2026).
Menurut Halikinnor, penanganan tidak cukup hanya memadamkan titik api yang terlihat. Pendinginan perlu dilakukan secara menyeluruh karena sebagian titik kebakaran, terutama di lahan gambut, masih dapat menyimpan bara di bawah permukaan.
“Pendinginan ini penting karena ada titik yang secara kasatmata tidak terlihat asap,” ujarnya.
Karena itu, perpanjangan status darurat akan digunakan untuk mempertahankan patroli, pemadaman, pendinginan, serta kesiapan personel dan peralatan di wilayah yang masih rawan terbakar.
Setelah persoalan penanganan api, dampak kemarau juga mulai dirasakan langsung warga di sejumlah wilayah selatan Kotawaringin Timur, terutama terkait ketersediaan air bersih.
Camat Teluk Sampit Rida Iswandi mengatakan kondisi kemarau saat ini membuat kebutuhan air bersih menjadi semakin mendesak bagi masyarakat.
“Kemarau hari ini jauh lebih panas dan kering, sehingga air bersih menjadi salah satu kebutuhan vital di masyarakat,” terang Rida.
Distribusi air bersih dilakukan untuk membantu warga yang sumber air bakunya mulai menurun. Pemerintah daerah menyebut penyaluran ke sejumlah wilayah mencapai sekitar 60 ribu liter per hari.
“Distribusi air akan terus kami lakukan selama kebutuhan masyarakat belum kembali normal, terutama di wilayah yang sumber airnya mulai terbatas,” ujar Rida Iswandi.
Kondisi tersebut membuat penanganan karhutla dan kekeringan berjalan beriringan. Di satu sisi, pemerintah masih harus menjaga titik rawan kebakaran agar tidak kembali meluas. Di sisi lain, kebutuhan dasar warga berupa air bersih harus tetap dipenuhi selama sumber air belum pulih.
Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur sebelumnya juga menyatakan akan mengevaluasi kebutuhan sumur bor dan embung permanen di wilayah rawan, sekaligus memperkuat kesiapan peralatan pemadaman.
Perpanjangan status darurat hingga 15 Oktober kini menjadi ujian berikutnya bagi pemerintah daerah untuk memastikan kebakaran dapat dikendalikan, sekaligus menjaga pasokan air bagi warga yang terdampak kemarau.(sm/*)









