Distribusi air bersih di Kalimantan Tengah terus dilakukan, tetapi kebutuhan warga belum berhenti. Hingga 26 September 2026, total bantuan air yang disalurkan mencapai 4.189.250 liter ke sejumlah wilayah. Pada hari yang sama, 245.000 liter kembali didistribusikan ke 11 kabupaten.
Kebutuhan tersebut muncul dengan bentuk berbeda di setiap daerah. Di Seruyan, sejumlah sumber air warga dilaporkan menyusut bahkan mengering. Anggota DPRD Seruyan Sukran Ma’Mun menyebut kondisi sumur warga, termasuk sumur bor, ikut terdampak.
“Jangankan sumur galian biasa, sumur bor pun kekeringan,” ungkapnya. Selasa (29/9/2026).
Di Kotawaringin Timur, masalahnya bukan hanya sumber air yang berkurang. Intrusi air laut membuat air baku di wilayah selatan berubah payau hingga asin. Hasil pengujian Perumdam Tirta Mentaya menunjukkan kadar salinitas di kawasan selatan telah menembus 650 ppm.
Direktur Perumdam Tirta Mentaya, Ismanadi menjelaskan air tersebut tidak aman untuk konsumsi.
“Salinitas air di selatan Kotim berada di atas 650 ppm, baik saat air pasang maupun surut, sehingga sangat tidak aman dikonsumsi,” terang Ismanadi.
Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur kemudian mempertahankan distribusi air ke wilayah selatan. Bupati Halikinnor menyebut kebutuhan di sejumlah desa dapat mencapai sekitar 60 ribu liter per hari.
“Kurang lebih 60 ribu liter per hari kita salurkan untuk membantu kebutuhan masyarakat di wilayah selatan,” kata Bupati.
Di Kapuas, persoalan air juga muncul dalam serapan aspirasi warga. Anggota DPRD Kalteng Muhajirin menyebut kebutuhan air menjadi keluhan yang paling banyak disampaikan warga dalam delapan titik reses.
“Dari delapan titik itu, keluhan yang paling banyak pertama masalah air,” ungkap Muhajirin.
Distribusi bantuan menunjukkan pemerintah masih menutup kebutuhan harian warga melalui pasokan tambahan. Namun pola itu juga menunjukkan persoalan belum seluruhnya bergeser menjadi solusi permanen, terutama di wilayah yang sumber airnya terus menurun atau berubah kualitas.(sm/*)








