Hujan deras yang mulai mengguyur sejumlah wilayah Kotawaringin Timur belum membuat pemerintah menghentikan penanganan karhutla. Bupati Kotim Halikinnor menyebut kondisi kebakaran tahun ini tergolong parah, sementara keterbatasan sumber air dan armada pemadam menjadi persoalan yang masih harus dibenahi.
Halikinnor mengatakan, kondisi panas dan kering yang berlangsung panjang membuat embung, parit dan sumber air yang biasanya digunakan untuk pemadaman ikut mengering.
“Ini termasuk yang parah tahun ini,” ujar Halikinnor. Senin (28/9/2026).
Menurut dia, persoalan tersebut menjadi evaluasi agar kesiapan menghadapi kemarau berikutnya tidak dimulai setelah kebakaran meluas. Pemerintah berencana memperkuat sumber air permanen di sejumlah titik rawan.
“Sumur-sumur yang betul-betul dalam harus dipelihara,” katanya.
Ia juga meminta pemilik lahan ikut bertanggung jawab menjaga lahan masing-masing. “Harus ada sumur atau embung portable,” pinta Bupati.
Masalah lain berada pada sarana pemadaman. Menurut Halikinnor, personel tersedia, tetapi belum seluruhnya ditopang armada yang cukup.
“Kita kekurangan armada, khususnya mobil pemadam,” ungkapnya.
Pemerintah daerah tetap mengoptimalkan penanganan meski hujan mulai turun. Langkah ini penting karena hujan yang terjadi di sebagian wilayah tidak otomatis menghilangkan risiko kebakaran di seluruh wilayah Kotim.
DPRD Kotim sebelumnya juga meminta proses hukum karhutla berjalan profesional dan transparan, baik terhadap masyarakat maupun perusahaan yang diduga terlibat.
“Penegak hukum bekerja profesional,” kata Ketua DPRD Kotim Rimbun.
Persoalan Kabupaten Kotim saat ini bukan hanya memadamkan titik api yang tersisa, tetapi memastikan ketersediaan air, armada dan pengawasan lahan menjadi bagian dari kesiapsiagaan.(sm/*)









