Politikus Ini Kritisi Edaran Penghentian Sementara Jabat Tangan di Sekolah

faktakalimantan.co.id - PALANGKA RAYA - Pemerintah Kota Palangka Raya melalui Dinas Pendidikan (Disdik) kota setempat, mengambil kebijakan dengan

Petakan Potensi Peraian Palangka Raya
Masyarakat Palangka Raya Diingatkan Waspadai Dampak El Nino
Kedisiplinan ASN Dinilai Meningkat

FOTO : Ketua DPRD Palangka Raya, Sigit K. Yunianto.

faktakalimantan.co.id – PALANGKA RAYA – Pemerintah Kota Palangka Raya melalui Dinas Pendidikan (Disdik) kota setempat, mengambil kebijakan dengan mengeluarkan surat imbauan yang salah satu poinnya, menghentikan sementara waktu siswa, guru dan seluruh warga sekolah untuk melakukan salam berjabat tangan

Imbauan itu dikeluarkan sebagai respon upaya mewaspadai ancaman virus corona (Covid-19), yang saat ini semakin meluas dan berpotensi untuk terpapar atau terjangkit wabah tersebut yang cukup tinggi.

Menyikapi surat imbauan dari dinas pendidikan tersebut, Ketua DPRD Palangka Raya, Sigit K. Yunianto mengaku tidak sependapat alias tidak setuju, terutama imbauan untuk menghentikan sementara waktu siswa, guru dan seluruh warga sekolah untuk melakukan salam berjabat tangan/sentuhan fisik antara peserta didik dengan guru.

“Disini saya tidak setuju, imbauan menghentikan berjabat tangan sementara waktu. Padahal jabat tangan merupakan salam dan ciri khas dari budaya Indonesia. Lalu gantinya salam yang bagaimana,” tanya Sigit.

“Disini ada poin, sebagai gantinya bisa dengan menggunakan salam lain yang sesuai dengan budaya Indonesia. Nah, salam yang bagaimana maksudnya,” ucapnya lagi, Kamis (5/3/2020).

Menurut Sigit, merupakan langkah yang tepat ketika penyelenggara pendidikan mengeluarkan
surat imbauan yang terkait upaya mewaspadai ancaman virus corona (Covid-19), yang saat ini semakin meluas.

Hanya saja jelas dia, dalam imbauan tersebut hendaknya ditekankan bagaimana warga sekolah meningkatkan kesehatan peserta didik dan warga lingkungan sekolah itu sendiri.

“Seperti ajakan siswa, guru dan seluruh warga sekolah untuk membiasakan gerakan cuci tangan dengan menggunakan sabun. Ini poin yang lebih tepat dibanding menghentikan berjabat tangan sementara waktu. Yang kita takutkan anak didik akhirnya menjadi terbiasa tidak menjabat tangan. Ini namanya kebablasan,” tukas Sigit.

Selebihnya politikus PDI Perjuangan Kota Cantik ini mengharapkan, agar penyelenggara atau lembaga pendidikan bisa menempatkan situasional saat ini, sebagai upaya membangun kemandirian dalam menjaga kesehatan.

“Peran sekolah harus didorong bagaimana menumbuhkan kesehatan lingkungan dan kesehatan peserta didik termasuk warga sekolah lainnya,” demikian Sigit. (yd/agg)

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS:
error: Content is protected !!