Ketua IBI Barsel Angkat Bicara Terkait Dugaan Kelalaian Bidan

faktakalimantan.co.id - BUNTOK - Terkait dugaan karena kelalaian bidan hingga menyebabkan tewasnya bayi baru lahir di Desa Tanjung Jawa, Kecamatan

BPBD Barsel Diimbau Waspadai Potensi Bencana
SPBU Sababilah Tegaskan Bertanggung Jawab Atas Insiden BBM Tercampur Air
Kapolres Barsel Kembali Tunjukan Jiwa Solidaritas

FOTO : Ketua IBI Barsel, Irmawati, saat memberikan keterangan kepada awak media di Hotel Afiat Jaya, Kota Buntok, Kecamatan Dusun Selatan, Barsel, Senin (4/11/2019).

faktakalimantan.co.id – BUNTOK – Terkait dugaan karena kelalaian bidan hingga menyebabkan tewasnya bayi baru lahir di Desa Tanjung Jawa, Kecamatan Dusun Selatan, Kabupaten Barito Selatan, Sabtu (26/10/2019) lalu, ini penjelasan Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Barsel.

Ditemui seusai pelaksanaan lomba balita cerdas tingkat Kabupaten Barsel tahun 2019, Senin (4/11/2019) di Aula Hotel Afiat Jaya, Irmawati menuturkan bahwa berdasarkan informasi yang diterima pihaknya, bahwa kasus kematian bayi dari pasangan suami isteri Ridwan (25) dan Fitriah (21) tersebut, bukan sepenuhnya merupakan kesalahan bidan.

Dijelaskannya, bahwa pada saat kejadian, bidan P memang sedang tidak berada di tempat, karena sedang mengantar laporan di Kota Buntok.

Dan bahkan menurutnya lagi, bidan P sebenarnya sudah berada di Buntok sejak hari Jumat (1/11/2019).

“Bidan P sedang mengantar laporan di Buntok dan dia sudah berada di Buntok sehari sebelum kejadian. Pada hari kejadian itu, dia baru pulang sekitar jam empat sore di Tanjung Jawa,” tuturnya.

Lanjut Irmawati lagi, berdasarkan cerita P, alasan hingga membuat bidan P tidak bisa membantu kedua pasutri yang bayinya meninggal itu, selain karena tidak sedang berada di tempat, juga karena kedua pasutri tersebut sebenarnya bukanlah warga desa Tanjung Jawa. Sehingga, bidan P yang dimintai bantuannya tidak mengetahui pasti kondisi pasti dari pasiennya, karena tidak memiliki datanya.

“Mereka (korban, red) kan bukan penduduk Tanjung Jawa, jadi bidannya tidak tahu secara pasti bagaimana kondisi yang bersangkutan. Sebab dia bukan orang sana, maka tidak ada datanya dimiliki oleh bidan,” terangnya.

Menurut Irmawati lagi, berdasarkan informasi yang diterima oleh pihaknya, bahwa yang menghubungi bidan P bukanlah orang tua korban, melainkan adalah pihak keluarganya dan itupun hanya sebatas menanyakan dimana posisi dari si bidan, tanpa menjelaskan duduk persoalan sebenarnya.

“Yang menghubungi bidan P kan bukan orang tua bayi, tapi pihak keluargannya, dan itupun hanya mengirim sms tanya ‘dimana posisi?’ gitu aja, jadi dijawab sama bidan P ‘masih di Buntok’. Tidak ada penjelasan mengenai apa yang sedang terjadi,” ungkapnya.

Namun ketika ditanya oleh awak media, mengenai kenapa hanya bidan P saja yang protes dengan pihak korban karena memposting di facebook, meskipun sebenarnya ada dua bidan yang bertugas di Desa Tanjung Jawa. Padahal dalam postingan orang tua korban di facebook tidak menuliskan nama bidan yang dimakasudkan, Irawati juga mengaku tidak mengerti.

“Nah itu saya juga tidak tahu, mungkin karena yang di sms pertama adalah bidan P,” kilahnya.

Ditambahkan oleh Irmawati, pihaknya saat ini masih menunggu hasil dari mediasi antara pihak korban dengan bidan P yang difasilitasi oleh perangkat desa setempat.

Dan ia menjajikan apabila memang ditemukan bahwa bidan P yang bersalah, maka pihaknya hanya bisa memberikan rekomendasi kepada pihak IBI di tingkat Provinsi untuk diteruskan kepada IBI pusat.

“Kalau kami kan hanya IBI Kabupaten, apabila nanti ditemukan bahwa memang bidannya yang bersalah, maka kami akan memberikan rekomendasi kepada IBI Provinsi dan keputusannya adalah IBI pusat. Tapi saat ini, kami masih menunggu hasil mediasi antara bidan P dan pihak orang tua korban di Desa Tanjung Jawa,” tukasnya.

Namun, menyangkut kasus ini, Irmawati menegaskan bahwa pihaknya sebagai organisasi yang menaungi seluruh bidan di Barsel, tidak ada berencana untuk melaporkan pihak keluarga korban kepada pihak yang berwajib.

“Untuk itu (laporan, red) kami tidak ada rencana, kalaupun selesai di tingkat mediasi ya itulah keputusannya,” pungkasnya.

Sebelumnya, berdasarkan cerita Ridwan, mulai pukul 05.00 WIB isterinya sudah mulai kontraksi. Kemudian kakak iparnya menelepon sang bidan yang bertugas di desa tersebut.

“Namun sang bidan tidak bisa datang, karena beralasan mau rapat ke Buntok,” ucapnya membuka cerita.

Sekitar pukul 07.00 WIB, dengan dibantu oleh tetangga, anaknya lahir dengan selamat, namun sudah sesak bernafas seperti ada yang mengganjal di dalam hidung, berbunyi seperti orang mengorok.

Sambung Ridwan lagi, sang bidan sebenarnya berjanji akan datang pada siang atau sore harinya seusai mengikuti rapat, untuk kemudian membantu mengeluarkan air ketuban dengan alat yang dimiliki bidan tersebut. Sebab itulah dirinya kemudian tidak membawanya ke rumah sakit, serta alat transportasi yang susah dari desa Tanjung Jawa menuju Buntok.

“Mendengar hal tersebut kami menunggu-nunggu bidan itu datang. Pada sore hari anak saya sudah mulai pucat, dari bagian kaki hingga wajah. Namun hingga anak kami meninggal pukul 17.00 WIB, bidan tersebut tidak juga datang,” tuturnya sedih.

Bidan tersebut sebenarnya sempat datang ke Desa Tanjung Jawa dan bertemu kakak iparnya dijalan. Namun sayangnya ia tidak datang kerumah mertua Ridwan, karena beralasan mau ke Buntok lagi, untuk menjemput sang ibu.

“Sebenarnya saya tidak ingin mempermasalahkan kejadian ini. Namun karena mengganjal dihati tidak bisa saya tahan-tahan lagi. Lalu saya bikin postingan keluhan di grup facebook Aspirasi Masyarakat Barito Selatan. Oleh karena postingan tersebut, bidan yang bersangkutan beserta sang ibu marah-marah mendatangi rumah mertua saya, menyuruh untuk menghapus postingan  dan mau melaporkan saya balik,” sesalnya.

Lanjut Ridwan lagi, dirinya heran, ibu si bidan berkata mau melaporkan balik, padahal dirinya tidak ada melaporkan mereka dan bahkan dalam postingannya di grup Facebook, dirinya tidak menyebutkan nama si bidan.

Ia mengaku, semua ini ia lakukan, semata-mata hanya agar menjadi pelajaran bagi para bidan, untuk selalu siap sedia ketika dibutuhkan di di desa nya masing-masing dan memberikan pelayanan terbaik. Agar kejadian yang dirinya alami ini, tidak terjadi lagi kepada orang lain.

“Saya heran, mereka itu bisa kerumah mertua saya untuk marah-marah. Namun saat diperlukan untuk menolong anak saya, tidak bisa datang,” kesalnya.

Sementara itu, akun facebook dengan inisial PP dalam komentarnya, mengancam akan melaporkan Ridwan terkait postingannya tersebut.

“Siap kak.. Bikoor kmi sdh melakukan koordinasi dengan bidan yang bertugas, Ka. Puskesma, Dinkes, Kepolisian, pihak Aparat Desa dan Keluarga. Untuk d lakukan pertemuan atas dasar apa membuat status menyalahkan bidan yang bertugas. Keputusan selanjutnya akan diserahkan kepada pihak yang berwajib apakah masuk kedalam pencemaran nama baik orang dan instansi terkait,” tulisnya.

Namun pada saat dikonfirmasi oleh awak media, Senin (4/11/2019) melalui pesan singkat, PP enggan memberikan keterangan terkait informasi masalah tersebut.

“Maaf Mas..kami tdk bisa mberikan informasi lbh lanjut terkait privasi..trims,” sebutnya.

Hingga berita ini diturunkan, ketika dihubungi via pesan singkat, Kepala Dinas Kesehatan Barsel, dr. Djulita Kapalar, belum memberikan jawaban apapun menyangkut masalah ini. (Petu)

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS:
error: Content is protected !!