Monumen Tjilik Riwut Bisa Dijadikan Landmark Bukit Batu

KASONGAN,GK - Munculnya gagasan pembangunan patung pahlawan nasional Tjilik Riwut di kawasan Objek Wisata Bukit Batu Kasongan direspon positif tokoh m

Korban Pembunuhan dengan Tubuh Penuh Luka di Pendahara
Kasus Gantung Diri Kembali Terjadi Katingan
Pemerintah Desa Diminta Sokong BUMDes

KASONGAN,GK – Munculnya gagasan pembangunan patung pahlawan nasional Tjilik Riwut di kawasan Objek Wisata Bukit Batu Kasongan direspon positif tokoh masyarakat Katingan. Hadirnya monumen itu diharapkan menjadi landmark untuk menambah daya tarik pelancong ke Bukit Batu.

Mantan anggota DPRD Katingan H Muhammad Yahya menuturkan, kawasan Bukit Batu yang terletak di Jalan Transkalimantan kilometer 12 arah Kasongan – Palangka Raya memiliki lokasi yang sangat strategis.

“Saya sangat setuju kalau ada rencana membangun monumen Tjilik Riwut di Bukit Batu. Semoga saya gagasan masyarakat itu bisa diakomodasi oleh Pemerintah Kabupaten Katingan,” ungkapnya, Jumat (2/2).

Menurutnya, jika terealisasi maka monumen tersebut dapat dijadikan ikon baru Objek Wisata Bukit Batu ke depan. Selain memiliki keunikan berupa batu yang saling bertumpuk, Bukit Batu juga dikenal sebagai titik awal perjuangan Tjilik Riwut dalam merebut kemerdekaan Indonesia.

“Tujuannya tidak lain untuk memperlihatkan simbol perjuangan salah seorang pahlawan nasional asal Kabupaten Katingan. Sebagai bentuk penghormatan daerah kepada mendiang Tjilik Riwut, agar generasi penerusnya mau mencontoh atau meneladani,” imbuhnya.

Yahya menilai, pahlawan nasional yang juga gubernur pertama Kalteng ini terkenal dengan berbagai konsep pembangunannya yang cemerlang. Seperti ketika membangun Jalan Transkalimantan yang cukup ambisius.

“Salah satu konsep atau ide yang kita rasakan hingga sekarang adalah membangun jalan-jalan di perkampungan yang penduduknya paling sedikit dan terisolir,” jelasnya.

Selain itu, Tjilik Riwut juga adalah seorang tokoh yang dikenal akan kesederhanaan, bijak, ramah, dan menjunjung tinggi fluralisme.

“Beliau dekat sekali dengan semua pemuka agama, baik Islam, Kristen, Hindu Kaharingan maupun pemuka agama lainnya. Termasuk kakek saya dulu (Syaifuddin Didana, Red), beliau tidak pernah membeda-bedakan masyarakat,” pungkasnya. (BS)

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS:
error: Content is protected !!